MANTU KUCING, Sebuah Catatan Perspektif Sosiologi

PENDAHULUAN

Desa sebagai suatu komunitas yang dihuni oleh sejumlah penduduk yang memiliki sistem organisasi dan pemerintahan tentu tak lepas dari sebuah system kebudayaan. Desa merupakan fenomena yang bersifat universal, yang memiliki ciri-ciri yang sama, tetapi disamping itu juga memiliki ciri-ciri khusus yang bersifat lokal. Sebagai suatu fenomena khusus, desa memiliki ciri tertentu yang hanya dimiliki oleh satu desa, misalnya tentang adat atau kebudayaan yang dilakukan oleh para warga desanya.

Dalam Sosiologi konsep kebudayaan sangat penting, karena pelaku dari kebudayaan adalah masyarakat sedangkan obyek studi pokok sosiologi adalah masyarakat, termasuk masyarakat desa.

Pola kebudayaan yang dianut masyarakat desa biasanya merupakan pola kebudayaan tradisional. Pola kebudayaan tradisional adalah merupakan produk dari besarnya pengaruh alam terhadap masyarakat yang hidupnya tergantung pada alam. Semakin sebuah masyarakat tergantung pada alam semakin terlihat jelas pola kebudayaan tradisional dalam masyarakat tersebut, misalnya tentang upacara adat yang menyangkut peristiwa alam. Karena dominasi alam yang kuat terhadap masyarakat desa juga mengakibatkan tebalnya kepercayaan mereka terhadap takhayul. Takhayul dalam hal ini merupakan proyeksi dari ketakutan atau ketundukan mereka terhadap alam disebabkan karena tidak dapat memahami dan menguasai alam secara benar.

Kebudayaan tradisional sendiri meliputi beberapa hal diantaranya upacara adat yang biasa dilakukan oleh warga desa dengan tujuan khusus tertentu dan dengan tata cara tertentu.

Upacara adat sebagai bagian dari kebudayaan tradisional warga desa juga dimiliki oleh warga desa Purworejo Kecamatan Pacitan Kabupaten Pacitan Jawa Timur, yaitu upacara adat keagamaan yang bernama “Mantu Kucing” dimana upacara ini dilaksanakan warga dalam rangka meminta kepada Sang Maha Pencipta supaya diturunkan hujan.

A. SEJARAH UPACARA ADAT MANTU KUCING

Upacara adat mantu kucing merupakan upacara adat untuk memohon kepada Tuhan Ynag Maha Esa agar menurunkan hujan di daerah orang-orang yang mengadakan upacara tersebut. Upacara ini dilaksanakan bila tiba musim kemarau yang berkepanjangan dan berdampak negatif terhadap warga masyarakat yang masih agraris.

Upacara adat ini diangkat dari tradisi masyarakat desa Purworejo. Desa Purworejo merupakan salah satu desa di Kota Pacitan yang terletak kurang lebih 3 Km dari pusat kota. Desa ini termasuk dalam Kecamatan Pacitan Kabupaten Pacitan Jawa Timur. Kondisi wilayahnya didominasi persawahan dan bukit serta beberapa aliran sungai sebagai anak sungai Grindulu, sungai terbesar di Kabupaten Pacitan seharusnya menjadikan desa ini tidak kekeringan. Namun pada kenyataannya hampir setiap tahun desa ini mengalami kekeringan pada musim kemarau panjang.

Kondisi ini yang membuahkan sebuah tradisi adat sebagai prosesi untuk meminta hujan kepada Sang Maha Pencipta, yaitu upacara adat Mantu Kucing yang berawal dari kejadian masa silam (tidak disebutkan tahun kejadiannya) dikisahkan seorang warga desa yang memperoleh “wisik” (petunjuk dari Alloh) agar turun hujan, maka mereka harus melaksanakan upacara mantu kucing. Waktu itu para sesepuh desa segera mengadakan musyawarah untuk melaksanakan upacara mantu kucing, sebagai bukti kepercayaan dan kepatuhan mereka terhadap Sang Maha Pencipta sesuai wisik yang diperoleh.

Upacara ini menyerupai upacara adat di Yunani purba, yakni sewaktu kemarau panjang rakyatnya mengadakan upacara menyembelih kambing jantan (tragos) agar dewa Zeus berkenan menurunkan hujan di daerah yang dilanda kemarau panjang.

Sekalipun yang dinikahkan seekor kucing, masyarakat Pacitan menyebut dua ekor kucing yang dinikahkan itu dengan istilah pengantin (manten, dalam bahasa Jawa) dan sampai saat ini upacara Mantu Kucing masih rutin dilakukan oleh warga desa Purworejo ketika musim kemarau panjang melanda desa mereka.

B. KRONOLOGIS UPACARA ADAT MANTU KUCING

Upacara mantu kucing ini ditradisikan di desa Purworejo Kabupaten Pacitan dalam suatu kegiatan untuk meminta hujan kepada Tuhan pencipta langit dan bumi. Upacara ini diadakan bila wilayah tersebut dilanda musim kemarau yang berkepanjangan

Mantu kucing tiada ubahnya seperti orang mengadakan upacara pernikahan dua anak manusia. Hanya khusus dalam keperluan ini yang dinikahkan adalah dua ekor kucing dan tidak didudukkan di kursi pelaminan melainkan di dalam tandu, namun demikian pengantin juga dihias walaupun hanya dipakaikan mahkota dari janur kuning. Selain itu kedua mempelai juga tidak mengucapkan ijab qobul sendiri melainkan diwakili oleh masing-masing kepala desa dimana kucing yang dinikahkan berasal.

Kucing betina berasal dari desa Purworejo dan kucing jantan diambil dari desa tetangga yang bersebelahan dengan desa Purworejo yakni desa Arjowinangun, yang terletak tepat di sebelah barat desa Purworejo. Upacara ini secara tradisional diadakan ditepi sebuah aliran sungai tempat kucing betina yang dinikahkan dipelihara, menurut tetua warga desa hal ini dimaksudkan supaya sungai yang berada didekat tempat upacara itu segera dialiri air yang berasal dari air hujan sebagai hasil dari permohonan mereka melalui upacara ini sebagaimana yang mereka percaya.

Tata urutan upacara ini adalah:

1. Pada hari yang telah ditetapkan, pengantin perempuan dinaikkan tandu, diarak dan dibawa ke tempat upacara pernikahan.

Tempat yang dimaksud berada di batas desa asal kucing betina dan dipilih di tepi sungai. Di tempat inilah calon pengantin perempuan (kucing betina) menanti kedatangan calon pengantin laki-laki (kucing jantan) yang berasal dari desa Arjowinangun.

2. Upacara Temu Manten.

Setelah penganten laki-laki datang di tempat tersebut diadakan upacara temu penganten. Penganten laki-laki diarak dengan pengiring yang membawa sesaji dan seperangkat barang sasrahan (barang yang diserahterimakan atau biasa disebut mahar) dari pihak besan laki-laki kepada besan pihak perempuan. Mahar dalam perkawinan kucing ini biasanya berupa pedaringan (dalam bahasa Jawa disebut genthong) yaitu sebuah wadah terbuat dari tanah liat yang digunakan untuk tandon air, menurut warga desa hal ini mengisyaratkan warga sudah siap menadah hujan yang turun dengan menggunakan tandon tersebut. Dalam upaca serah terima ini pengantin laki-laki (kucing jantan) diwakili oleh seorang wanita (ibu kepala desa Arjowinangun). Pihak penerima adalah wakil pengantin perempuan yang diwakili oleh seorang bapak (kepala desa Purworejo). Temu penganten itu disebut jemuk Setelah upacara serah terima penganten laki-laki dan perempuan didudukkan bersanding di dalam tandu penganten perempuan kemudian kedua penganten diarak menuju ke tepi sungai.

Calon mempelai perempuan dipilih kucing betina yang sudah dewasa tapi belum pernah beranak, berbulu coklat halus dan sehat serta asli dipelihara oleh warga desa Purworejo. Sedangkan calon mempelai laki-laki dipilih kucing jantan yang sudah dewasa dan diperkirakan belum pernah bersama kucing betina, berbulu coklat halus dan sehat serta dipelihara di desa Arjowinangun.

3. Upacara Memandikan Penganten

Sebagaimana pengantin manusia, pengantin kucing ini juga dimandikan untuk mensucikan diri sebelum memasuki akad nikah.

Di tepi sungai tempat pesta pernikahan berlangsung, kepala desa Purworejo menyerahkan kedua penganten kepada sesepuh desa (dukun yang bernama mbah Dullah). Kakek inilah yang memimpin upacara memandikan pengantin dengan air bunga, sekaligus upacara akad nikah dimana ijab kabulnya diucapkan oleh kepala desa Purworejo dan diterima oleh sesepuh yang memimpin upacara ini. Kakek sesepuh desa kemudian mengucapkan doa dan mantra, dengan perantaraan dua ekor kucing (sepasang penganten) yang dimandikan, sang Kakek memohon kepada Tuhan agar diturunkan hujan yang berkah.

4. Upacara Ngalap Berkah

Upacara ngalap berkah berupa selamatan dengan tumpeng nasi kuning. Sesudah dipanjatkan doa, warga masyarakat mengadakan makan bersama yang disebut “kembul bujana punar” artinya secara bergantian warga desa yang ngestreni (menghadiri) mengambil nasi kuning. Tumpeng nasi kuning dipersiapkan pihak penganten perempuan (kepala desa Purworejo)

5. Upacara Penutup-Sungkeman

Setelah selesai upacara ngalap berkah, rangkaian upacara dilanjutkan dengan sungkeman. Pihak keluarga penganten laki-laki dan perempuan bergantian melakukan sungkeman sebagai tanda akhir upacara mantu kucing. Kakek dukun meminta kepada segenap warga desa yang mengikuti upacara agar dengan segera meninggalkan tempat upacara, menuju kerumah masing-masing karena diyakini setelah itu akan turun hujan yang deras.

Sepasang pengantin kucing yang telah dinikahkan kemudian dibawa pulang oleh kepala desa Purworejo dan dipingit didalam kandang selama 7 hari atau sampai hujan turun dan setelah itu dipelihara biasa selayaknya kucing piaraan.

Upacara adat Mantu kucing menggunakan musik pengiring selawatan yang ritual dan mengacu ke tradisi Khataman nabi.

Dialog-dialog yang diucapkan dalam upacara adat ini antara lain:

1. Dialog pasrah pihak penganten perempuan yang diucapkan oleh kepala desa Purworejo, ditujukan kepada pihak penganten laki- laki (kepala desa Arjowinangun).

2. Dialog penampi (penerimaan) yang diucapkan oleh pihak penganten laki-laki (kepala desa Arjowinangun) ditujukan kepada kepala desa Purworejo.

3. Dialog pasrah pihak penganten (kepala desa Purworejo) kepada sesepuh desa

4. Ijab Kabul antara kepala desa Purworejo (pihak pengantin laki-laki_ dengan sesepuh desa

5. Monolog sesepuh desa yang memimpin upacara adapt Mantu Kucing disaksikan oleh seluruh warga desa yang menghadiri (mangestreni). Monolog ini berisi rangkaian kata-kata doa/pengucapan mantra-mantra menjelang pelaksanaan kembul bujana punaru sebagai permohonan kepada Sang Maha Pencipta agar diturunkan hujan.

6. Pernyataan sesepuh desa bahwa upacara telah selesai. Begitu upacara selesai segenap warga diminta pulang ke rumah masing-masing dengan segera.

C. PERSEPSI WARGA DESA MENGENAI UPACARA ADAT MANTU KUCING

Setiap individu memiliki persepsi yang berbeda dalam memandang sebuah tradisi termasuk mengenai upacara adat. Persepsi ada dalam pikiran individu sehingga untuk mengetahuinya harus digali dengan metode yang ilmiah untuk mendapatkan informasi yang valid. Di bawah ini akan dijelaskan secara singkat mengenai persepsi dari warga masyarakat desa Purworejo tentang upacara adat Mantu Kucing.

a. Sebagai rutinitas

Tradisi upacara adat Mantu Kucing dianggap oleh sebagian warga desa Purworejo Kabupaten Pacitan sebagai rutinitas setian tahun ketika musim kemarau panjang melanda desa mereka. Seperti dituturkan oleh Pak Hadi salah seorang warga “Mantu kucing itu rutinitas setiap tahun di desa Purworejo ketika musim kemarau dan sawah serta ladang kami kekeringan, tetapi saya percaya saja karena memang selesai upacara biasanya hujan langsung turun” (W/pak Hadi/22/12/07).

b. Sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur

Warga desa biasanya begitu menghormati para leluhurnya dan sangat takut untuk melanggar apa yang sudah diwariskan oleh mereka baik itu mengenai tradisi maupun benda-benda pusaka. Demikian pula mengenai upacara adat Mantu kucing yang sudah lama dilaksanakan secara turun-temurun oleh warga desa Purworejo. Seorang sesepuh desa menuturkan “mantu kucing itu sudah dilakukan sejak dulu oleh para tetua desa ini, suatu pantangan bagi kami jika tidak melakukannya sekarang, kami takut para leluhur kami marah dan mengutuk desa ini dengan dilanda kekeringan sepanjang tahun karena kami tidak menghormati mereka” (W//22/12/07), hal ini senada dengan yang diungkapkan oleh pak Sugijanto selaku kepala desa Purworejo “Upacara adat Mantu Kucing hanya sekedar tradisi untuk menghormati apa yang telah dilakukan para leluhur, kalaupun setelah ritual ini dilaksanakan hujan turun itu semata-mata karena kehendak Sang Maha Pencipta” (W/pak Sugijanto/22/12/07)

c. Sebagai kebutuhan

Karena lekatnya kepercayaan warga desa Purworejo pada upacara adat ini bahwa Mantu kucing bisa menjadi sarana mereka untuk memohon hujan kepada sang Pencipta maka upacara adat Mantu Kucing menjadi kebutuhan bagi warga desa ketika musim kemarau melanda, sebagaimana dituturkan oleh pak Tugino, petani di desa ini “setelah upacara mantu kucing di musim kemarau biasanya langsung turun hujan, jadi upacara ini menjadi kebutuhan bagi kami, apalagi para petani yang sawah dan ladangnya mengalami kekeringan” (W/pak Tugino/22/12/07)

d. Cerminan Identitas Desa

Sedangkan para remaja di desa ini beranggapan bahwa upacara adat mantu kucing merupakan salah satu identitas desa mereka karena memang hanya desa Purworejo yang memiliki tradisiini. Mengenai hal ini Velly, remaja yang sejak kecil tinggal di desa ini dan beberapa kali menyaksikan upacara adapt ini menuturkan “saya bangga desa saya punya tradisi yang unik ini yaitu upacara adat mantu kucing, setahu saya di Kabupaten Pacitan bahkan di Propinsi Jawa Timur ngga ada desa yang punya tradisi seperti ini, menurut saya ini hanya sebuah tradisi saja yang menjadi ciri khas atau identitas desa Purworejo. Saya sendiri tidak begitu percaya kalau upacara ini bisa menurunkan hujan, Karena yang saya tahu umat islam kalau memohon hujan adalah dengan sholat istiqo sebagaimana diajarkan oleh nabi Muhammad, apalagi hampir seluruh warga desa Purworejo beragama islam” (W/Velly/25/12/07)

D. PENGARUH TRADISI MANTU KUCING BAGI KEHIDUPAN SOSIAL MASYARAKAT

Sebagai sebuah tradisi yang sudah melekat dan turun temurun dalam kehidupan di desa Purworejo, mantu kucing sangat berpengaruh dalam kehidupan sosial warga desa. Mantu kucing secara tidak langsung berperan dalam menjaga hubungan baik kedua desa asal mempelai pengantin kucing yaitu desa Arjowinangun dan desa Purworejo.

Namun di satu sisi upacara adat ini menjadikan warga desa menyimpang dari ajaran agama yang mereka anut, yaitu islam karena hampir semua warga desa Purworejo dan Arjowinangun beragama islam. Seperti yang dituturkan oleh seorang tokoh agama di sana, pak Thoriq mengatakan “Penduduk Purworejo ini semua beragama islam, namun mereka belum bisa meninggalkan tradisi-tradisi yang berbau syirik, seperti halnya mantu kucing untuk meminta hujan. Islam sudah jelas-jelas mengajarkan bahwa ketika suatu kaum dilanda kekeringan maka dianjurkan untuk melaksanakan sholat istiqo bersama-sama di lapangan dengan membawa serta hewan piaraan mereka, itu tuntunan islam. Sedangkan mantu kucing yang dianggap dan dipercaya sebagai sarana untuk meminta hujan termasuk salah satu bentuk bid’ah (mengada-ada dalam urusan agama) karena tidak ada tuntunannya dalam islam. Padahal bid’ah itu termasuk syirik atau perbuatan menyekutukan Alloh yang dosanya tidak akan diampuni. Nah, mantu kucing sendiri sangat besar pengaruhnya pada warga sini, mereka begitu percaya dan melupakan sama sekali sholat istiqo yang diajarkan agama untuk meminta hujan” (W/pak Thoriq/22/12/07)

Secara umum upacara mantu kucing ini merupakan tradisi bagi warga desa ketika musim kemarau melanda, sehingga secara langsung maupun tidak mempengaruhi pola pikir mereka bahwasannya hal ini merupakan sarana untuk meminta hujan kepada sang Pencipta.

DAFTAR PUSTAKA

Anton, Moeliono, M (penyunting). 2002. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka

Black, A. James & Dean, J. Champion. 1992. Metode dan Masalah Penelitian Sosial. Bandung: PT. Eresco.

Deddy, Mulyana. 2004. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Geertz, Clifford. 1983. Abangan, Santri, Priyayi Dalam Masyarakat Jawa. Jakarta: Pustaka Jaya.

Geertz, Clifford. 1962. Kebudayaan dan Agama. Jogjakarta: Kanisius

BUAYA DARAT, Sebuah Interpretasi

PENDAHULUAN
Buaya darat, istilah yang samasekali tidak asing bagi masyarakat hampir disemua kalangan, baik muda, tua bahkan anak-anak. Istilah yang digunakan untuk menyebut laki-laki yang suka berganti pacar atau memiliki banyak pacar dalam waktu bersamaan ini sama halnya dengan istilah piala bergilir yang biasa digunakan untuk menyebut perempuan yang suka berganti pacar.
Meskipun istilah ini mengandung konotasi negatif yang berarti seseorang itu harus dijauhi dan kita harus bersikap hati-hati terhadapnya agar tidak dirugikan layaknya oleh hewan buaya yang merusak atau berbuat jahat dan mematikan manusia, namun anehnya sebutan buaya darat justru menjadi kebanggaan tersendiri bagi kaum pria dan menjadi fenomena yang umum terjadi di masyarakat. Apalagi sejak populernya lagu dari grup musik Ratu yang berjudul “Buaya Darat”, istilah ini menjadi bahasa sehari-hari.
Memang dalam kehidupan sehari-hari cukup banyak terjadi seorang perempuan yang dikecewakan oleh pacarnya (yang dalam kasus ini kita asumsikan adalah laki-laki semua) dikarenakan sang pacar hanya mempermainkannya, atau ternyata sang pacar menduakannya. Tapi pada kenyataanya tidak sedikit laki-laki yang juga seringkali dikecewakan oleh wanita karena sebab yang sama. Namun tidak seperti wanita yang selalu dikecam negatif ketika mengecewakan laki-laki atau berkhianat kepadanya, laki-laki justru bangga dengan sebutan buaya darat yang disematkan padanya karena merasa dirinya jago, penakluk perempuan dan lain-lain.
Simbol Sebagai Salah Satu Ekspresi Budaya
Ekspresi kebudayaan dapat dilihat pada tiga dimensi, yaitu dimensi simbolik, dimensi evaluatif, dan dimensi kognitif. Dimensi simbolik dapat ditemukan pada berbagai bentuk materi baik yang konkrit maupun yang abstrak yang menjadi tanda dari adanya suatu nilai. Buaya darat, symbol yang disematkan bagi laki-laki yang suka berganti pasangan atau bahkan memiliki lebih dari satu pasangan dalam waktu bersamaan merupakan salah satu ekspresi dimensi symbol dari wujud budaya.
Kenapa Buaya Darat
Lalu kenapa laki-laki yang dijuluki dengan istilah ini?dan kenapa buaya darat? Darimana asal sejarah munculnya istilah ini?Apakah ada hubungannya dengan perempuan yang seringkali dijuluki “kutilang darat” (Kurus tinggi langsing dada rata)? Bagaimana kaitannya dengan budaya maskulinitas?
Sebuah sumber menyebutkan berdasarkan cerita daerah, Pada tahun 1971, di sebuah daerah yang bernama Soronganyit yang terletak di sekitar Jember ada sebuah tambak buaya dimana buaya-buaya yang hidup disana sudah memiliki jadwal yang tetap kapan harus di darat dan kapan harus di air. Suatu hari seekor buaya jantan menghilang selama beberapa hari dan menggegerkan seluruh warga desa. Tiga bulan kemudian buaya tersebut ditemukan di daerah yang cukup kering dan tandus. Tapi anehnya buaya tersebut dapat bertahan hidup tanpa air selama tiga bulan, hanya dengan cara mandi kucing bersama buaya betina yang bukan pasangannya sendiri. Parahnya buaya betina yang bersamanya ini baru seumuran anaknya. Sejak saat itu jika ada laki-laki yang memiliki hubungan gelap dengan wanita lain di sekitar Soronganyit dijuluki sebagai buaya darat (www.google.com).
Dalam dongeng si kancil, seringkali diceritakan bahwa buaya adalah binatang penipu. Berlagak pura-pura mati namun ketika musuh mendekat maka dengan sigap akan dimakannya. Namun hal ini adalah perilaku wajar binatang. Jadi apa hubungannya antara laki-laki dengan buaya darat? Belum pernah ada dongeng yang menceritakan bahwa si buaya jantan adalah playboy dan suka menipu buaya perempuan dalam masalah percintan.
Lalu apakah istilah ini ada hubungannya dengan roti buaya yang menjadi tradisi masyarakat Betawi ketika sedang mempunyai hajat? Ternyata pun tidak, karena roti buaya dalam masyarakat Betawi justru melambangkan kesetiaan seorang laki-laki kepada pasangannya.
Istilah buaya darat juga tidak ada hubungannya dengan perilaku buaya penjantan yang harus mengawini banyak buaya betina. Dalam hal ini tidak tepat juga istilah buaya darat khusus hanya ditujukan untuk kaum lelaki hidung belang.
Dalam dongeng tentang kancil dan buaya, seringkali diceritakan buaya yang sering menitikan air mata untuk mengadali (menipu) si kancil. Dongeng-dongeng tersebut membentuk image kancil sebagai si cerdik, dan buaya sebagai sosok tukang tipu yang tak segan-segan menitikan air mata untuk mengelabui mangsanya. Dari sini bisa ditarik suatu kesimpulan bahwasannya istilah buaya darat ini digunakan untuk menjuluki lelaki yang tidak setia dan sering menduakan pasangannya dengan menggunakan berbagai macam cara sebagaimana dalam dongeng kancil dan buaya, dimana buaya menggunakan berbagai macam cara untuk mengelabui si kancil bahkan dengan menangis, samapai pada akhirnya pun muncul istilah baru yaitu air mata buaya untuk menggambarkan orang yang menangis hanya pura-pura untuk mendapat simpati orang lain misalnya. Perilaku lelaki hidung belang alias playboy yang suka menaklukan wanita dengan seribu satu muslihat. Yang juga tak segan-segan meneteskan air matanya untuk meluluhkan wanita. Sangat cocok dihubungkan dengan sosok buaya. Karena manusia laki-laki hidupnya di darat, maka disebut buaya darat.
Baltazur, Sang Buaya darat
Ada sebuah legenda yang menarik dari Riau, yaitu “Baltazur Sang Buaya Darat”. Baltazur adalah buaya jantan yang bisa bertahan di daratan berbulan-bulan untuk mencari mangsanya. Dan uniknya mangsanya adalah perempuan perawan yang cantik. Baltazur selalu memburu darah perawan, namun mangsanya ini tidak mati dimakan, setiap mayat korban yang dibawa ke rumah sakit dan divisum selalu mengalami ciri yang sama, yaitu keperawanannya hilang namun badannya masih utuh tidak dimakan. Masyarakat Riau tidak berspekulasi bahwa pelaku ini adalah seekor buaya, karena Baltazur menyeret korbannya di depan orang banyak, bukan sembunyi-sembunyi atau di tengah malam. Dan yang lebih menggelikan adalah setiap korban yang ditemukan selalu dalam keadaan tersenyum centil. Ketika seorang laki-laki mencoba menemui Sang Legenda Maut, Baltazur, tepat ketika Baltazur sedang membawa seorang gadis, laki-laki itu meminta kepada Baltazur untuk melepaskan gadis tersebut, namun Baltazur justru mengatakan dia hanya ingin melihat wanita mati dalam keadaan tersenyum senang, tidak tersiksa oleh kaum laki-laki karena menurut Baltazur laki-laki adalah spesies manusia yang hanya bisa menyiksa perempuannya, sehingga perempuan mati dengan beban, apa yang dilakukan Baltazur adalah untuk membebaskan perempuan dari bebannya.
Legenda tersebut memang hanya sebuah cerita daerah yang belum tentu kebenarannya, namun ada satu hal yang bisa kita simpulkan bahwasannya persepsi bahwa kaum laki-laki adalah kaum yang suka menindas perempuan baik dalam arti kekerasan fisik maupun psikologi yang berat maupun yang ringan seperti misalnya menghianati ketika berpacaran merupakan hal yang sudah umum hampir di semua kalangan masyarakat tidak mengenal suku, agama, budaya, kewarganegaraan dan jenis kelamin. Dikatakan tidak mengenal jenis kelamin karena contoh kecil pada waktu salah satu grup musik di Indonesia mengeluarkan sebuah lagu yang berjudul “Lelaki Buaya Darat”, kaum laki-laki juga sering mendendangkannya, entah dengan sadar ataupun tidak. Bahkan Satu grup band lagi yang semua personelnya laki-laki, yaitu Jamrud justru mengeluarkan lagu yang judulnya cukup mengejutkan yakni “Pria Biadab. Hal inilah yang semakin menguatkan munculnya istilah buaya darat untuk laki-laki yang suka menghianati wanita dalam masalah percintaan.
Namun mengingat apa yang dilakukan oleh Baltazur dalam legenda masyarakat Riau jelas sebutan ini tidak tepat, karena buaya justru menyelamatkan perempuan. Jadi sudah jelas sebutan lelaki buaya darat adalah sebuah kesalahan. Juga dalam tradisi masyarakat Betawi yang menggunakan roti buaya dalam acara perkawinan, karena menurut mereka buaya adalah symbol kesetiaan.
Kuatnya Stereotipe Dalam Masyarakat
Bagaimanapun juga hal ini tetap kalah dengan stereotipe yang sudah mengakar dalam masyarakat, bahwa buaya adalah binatang yang suka menipu, Crocodylus Genitrus Daratensis = Buaya Darat = “Lelaki” = “Perayu”, buaya darat adalah laki-laki penipu, penjahat cinta
Stereotipe ini memang kejam dan lebih kejam dari sebuah fitnah. Ia adalah pembunuhan karakter. Buaya salah satu korbannya. Dalam kenyataannya, buaya adalah hewan berperilaku monogami. hanya akan kawin (bukan “nikah”) dengan satu buaya lainnya selama sang pasangan belum tutup usia. Buaya juga membangun rumah tangga dengan menempati kedung (sebutan untuk sarang buaya) yang terletak di dasar sungai bersama sang pasangan. Kehidupan monogami tersebut berlangsung hingga salah satu mati. Jika takdir menentukan salah satu tutup usia dulu, barulah yang lain cari pasangan baru. Kesetiaan, Itu pesan khusus dari kehadiran “buaya” , seperti yang dipersepsikan masyarakat Betawi dengan tradisi roti buaya-nya dalam acara perhelatan nikah. Tidak seperti stereotipe yang salah kaprah mengorbankan buaya justru sebagai simbol playboy dan petualang cinta.
Sama halnya dengan pemberitaan yang dimuat dalam media massa beberapa waktu lalu ketika Presiden Republik Indonesia menyaksikan keluh kesah rakyat Porong yang tertimpa musibah Lumpur Lapindo sampai beliau menitikkan air mata dan berjanji akan mengunjungi mereka, namun pada akhirnya kunjungan itu batal. Entah darimana asalnya kemudian media ramai mengecap sang pemimpin negeri ini dengan sebutan “buaya”, menangis dengan air mata buaya.
Demikianlah, istilah buaya darat selalu dikonotasikan negatif, meskipun tidak diketahui dengan pasti bagaimana asal-usulnya, mungkin jika hewan buaya mengetahui hal ini bahwa namanya disematkan pada sang playboy dan para penjahat cinta, para buaya asli akan menitikkan airmata. Apalah daya, aku hanya buaya, mungkin demikian mereka berkeluh-kesah.
Sekedar Julukan
Meskipun demikian istilah buaya darat hanyalah sebuah julukan, yang dibuat oleh masyarakat untuk kalangan bagian dari masyarakat juga, yaitu kaum laki-laki yang pada dasarnya sudah memiliki citra tinggi di mata masyarakat. Dan terkadang, dalam kehidupan nyata, kebenaran tidaklah penting. Yang penting adalah citra, image. Tak heran kaum lelaki pun sekuat tenaga membangun citra dalam pergaulannya. Karena dengan citra, stereotipe terbangun dan kadang mengakar. Kadang dengan itulah kita akan dikenang dalam banyak memori orang. Tak peduli seperti apa perilaku kita dalam pandangan sebagian orang.
Buaya darat Vs Piala Bergilir
Berbeda dengan sebutan lelaki buaya darat yang begitu umum dalam masyarakat tanpa kesan negatif. Tentu akan lain jika hal ini dilakukan oleh perempuan. Meskipun perempuan juga mendapat sebutan jika sering berganti-ganti pasangan yaitu piala bergilir namun kesan terhadap perempuan akan sangat buruk, dicemooh, dihina, dianggap sebagai perempuan murahan dan lian-lain. Hal ini karena peran budaya yang mengakar kuat dalam masyarakat, budaya patriarki, maskulinitas pada pria dan feminitas pada wanita serta gender.
MASKULINITAS
Maskulinitas seringkali dimaknai dengan mengacu pada watak yang melekat pada kaum laki-laki, sehingga muncul imajinasi maskulinitas seperti tubuh yang berotot, perkasa, pemberani, petualang dan lain sebagainya. Stereotipe maskulinitas juga diidentikkan dengan mobilitas, gerak, gairah berkompetisi atau bertanding.
Dalam kehidupan sosialnya laki-laki dibentuk untuk tumbuh menjadi makhluk yang kuat dan keras, bahkan kata-kata maskulin sangat dekat artinya dengan kata otot (muscle). Laki-laki tidak diperkenankan untuk menangis, berkeluh kesah atau menunjukkan sikap-sikap lembut yang identik dengan perempuan. Mereka dituntut untuk memenuhi apa yang disebut “manhood” atau kode etik laki-laki (maskulinitas).
Maskulinitas merupakan karakter jender yang secara sosial memang dianggap layak dilekatkan dengan sosok laki-laki. Semakin maskulin seorang remaja pria, semakin mudah ia diterima dalam kelompoknya. Sebagai produk konstruksi sosial, maskulinitas bahkan telah ditanamkan sangat kokoh dalam lingkup keluarga inti.
Sedari kecil laki-laki diberikan hak istimewa oleh masyarakat, mereka didahulukan dalam segala hal dan diberi kebebasan melakukan apa saja yang bagi perempuan dilarang dan itu dianggap sebagai suatu kewajaran. Mereka diajarkan bahwa mereka adalah makhluk yang lebih berkuasa dibanding lawan jenisnya, dituntut untuk selalu tampil kuat, tidak kelihatan lemah. Yang mana apabila sedikit saja mereka menunjukkan kelemahan mereka, maka masyarakat akan memvonis mereka pengecut, banci, tidak jantan dan lain sebagainya.
Sebagai moralitas Proses yang terjadi kemudian adalah maskulinitas diposisikan sebagai moralitas yang menjadi tolok ukur kepantasan seorang laki-laki dalam pergaulan. Konsekuensinya, maskulinitas bukan lagi sebagai kebiasaan yang layak diikuti, melainkan sebagai norma yang berisi ajaran mengenai kebaikan versus keburukan. Maskulinitas menjadi dogma yang tidak mungkin mampu terbantahkan. Menentang maskulinitas berarti melanggar moralitas. Mematuhi maskulinitas bermakna meraih superioritas
Dogma maskulinitas telah menjadi doxa, yakni keyakinan fundamental yang tertanam secara mendalam yang mengarahkan gagasan dan tindakan remaja pria dalam jalinan interaksi sosial. Perilaku tidak toleran, kebut-kebutan, atau aksi kekerasan dinilai sebagai cara terbaik bagi remaja pria dalam membuktikan kelelakiannya.
Tidak ada hal yang lebih menakutkan bagi kaum remaja pria kecuali ketika mereka dituding sebagai banci atau perempuan. Bersikap lembut dan penuh belas kasih terhadap pihak lain menjadi perilaku terlarang. Feminitas pun dipandang sebagai tabu tidak terampunkan.
Karakteristik peran maskulin menurut Berry, dkk (1999) dapat digambarkan sebagai sosok individu yang kuat, tegas, berani, dan semacamnya. Individu yang memiliki peran maskulin menurut Bernard, Hensel, Lubinsk, dan Dullas (dalam Kuwanto, 1992) mempunyai sifat independent, teguh, semangat ingin tahu kuat, harga diri dan kepercayaan diri yang teguh, keberanian mengambil resiko). Ada kemungkinan sifat tersebut terbentuk oleh kebiasaan dalam pekerjaan dan tugas-tugas yang bevariasi dan banyak mengandung tantangan dan polemic. Sifat lain yang menonjol adalah sifat asertif. Sifat independent terhadap llingkungan yang disertai sifat mandiri dan otonomi diri merupakan cirri maskulinitas (Harrinton dan Anderson, dalam Sahrah, 1996)
Sementara itu Raven dan Rubin (1983) menyebutkan lebih detail karakteristik maskulin yakni: agresif, bebas, dominant, objektif, tidak emosional, aktif, kompetitif, ambisi, rasional, rasa ingin tahu tentang berbagai peristiwa dan objek0objek nonsosial dan impulsive. Selain itu karakteristik maskulin kurang dapat mengekspresikan kehangatan dan rasa santai,serta kurang responsive terhadap hal-hal yang berhubungan dengan emosi (perasaan)
Tidak terlalu mengagetkan jika kehidupan remaja pria diwarnai segala macam kekerasan. Kompensasi lain untuk menunjukkan kelelakian mereka adalah membentuk kelompok teman sebaya. Fenomena itulah yang menjadikan geng tumbuh subur dalam kehidupan remaja pria. Kehadiran geng bukan sekadar untuk berkumpul dengan remaja pria lain, tetapi juga sebagai aktualisasi nilai-nilai kelelakian yang dianggap paling sejati. Dalam geng itulah maskulinitas mendapatkan ruang paling diistimewakan. Kita dapat menyimak gejala itu dengan pemberian nama geng yang terkesan beringas dan mengandalkan sikap tegas. Struktur organisasi geng sengaja diambilkan dari konsep militer. Kedudukan, kepangkatan, atau satuan institusional, seperti “panglima”, “jenderal”, atau “brigade”, makin mempertegas sifat maskulin yang diharapkan. Geng motor adalah salah satu fenomena kehidupan remaja pria dengan dunia yang harus serba menonjolkan maskulinitas.
Masyarakat lebih permisif apabila laki-laki yang melakukan tindak kekerasan terhadap perempuan, baik istrinya, pacarnya atau temannya dibanding apabila yang terjadi adalah sebaliknya. Laki-laki sebagai penguasa dianggap memiliki kewenangan untuk mengatur perempuan dan apabila ia kehilangan kekuasaan tersebut, maka hilang pulalah harga dirinya. Secara tidak langsung laki-laki ditindas untuk memenuhi apa yang disebut kode etik laki-laki (maskulinitas) tadi.
Hal ini sebenarnya adalah merupakan bumerang bagi laki-laki itu sendiri. Alam bawah sadar mereka mendorong untuk selalu mempertahankan kekuasan dan keistimewaan yang diberikan masyarakat pada mereka. Mereka menjadi tidak dapat menerima adanya ancaman terhadap dua hal itu. Dan rasa ketakutan kehilangan kekuasaan dan keistimewaan itu adalah hantu yang menyiksa.
Salah satu konsep yang dikemukakan oleh Michael Jaufiman, seorang aktivis asal Kanada dalam makalahnya “Working with men and boys to challenge sexism and end men’s violence.” mengenai hal ini adalah konsep kekerasan yang dilakukan laki-laki (the Paradox of men’s power). Maksudnya sebagian besar kekerasan yang dilakukan oleh laki-laki adalah tanda kelemahan, tidak percaya diri, ketakutan dan rasa tidak pasti terhadap kekuasaan yang mereka miliki. Mereka selalu dikejar perasaan bahwa suatu saat kekuasan dan keistimewaan mereka akan hilang, karenanya tindak kekerasan terhadap perempuan pada dasarnya adalah kompensasi untuk selalu menyakinkan dan ini terus berulang karena untuk mengecek kembali apakah mereka masih memiliki dua hal tersebut (Nur Iman Subono, “laki-laki” pelaku atau korban kekerasan”, YJP edisi 26).
Sejak beberapa tahun terakhir, maskulinitas sebagai ideologi yang mempengaruhi pembentukan identitas bagi umumnya kaum laki-laki banyak diteliti di negara maju. Penelitian tersebut dilakukan di pusat studi jender. Maskulinitas kemudian dianggap sebagai faktor penting dalam hubungan jender antara sesama laki-laki maupun antara laki-laki dan perempuan. Seorang Sosiolog asal Australia, Bob Connell (Masculinities, University of California Press, 1994) menyatakan maskulinitas tidak bersifat tunggal, tetapi beragam dan terkait erat dengan status sosial ekonomi.
Kaitannya dengan status sosial ekonomi ini pada akhirnya muncul fenomena baru di kalangan remaja pria, yaitu pria metroseksual. Metroseksual berasal dari etimologi Yunani, metropolis , artinya ibu kota, plus seksual. Definisinya adalah sosok pria muda berpenampilan dandy, senang memanjakan dirinya, sangat peduli dengan penampilannya, senang menjadi pusat perhatian ( bahkan menikmatinya ), sangat tertarik dengan fashion dan berani menampilkan sisi femininnya. Mereka ini bahkan ditengarai sebagai sosok narsistik, yang jatuh cinta tidak hanya terhadap diri sendiri , tetapi juga gaya hidup urban.
Buaya Darat sebagai Ekspresi Maskulin
“Manhood” atau kode etik laki-laki (maskulinitas) yang sudah melekat pada citra diri laki-laki memunculkan sederet perilaku mereka untuk mengekspresikannya. Fenomena pacaran atau percintaan yang sudah umum dikalangan remaja menjadi salah satu wujud ekspresi maskulin ini, bagaimana seorang laki-laki (umumnya remaja) sangat lekat dengan budaya pacaran bahkan bergonta-ganti pasangan.
Perilaku ini merupakan hal yang wajar bagi sebagian besar masyarakat. Karena pelakunya adalah laki-laki, yang dalam pandangan masyarakat merupakan sosok yang dipersepsikan memiliki kedudukan yang tinggi, penguasa dan karena yang menjadi obyek (dalam perilaku gonta-ganti pasangan) oleh kaum laki-laki adalah wanita yang diasumsikan memiliki kedudukan yang lebih rendah, lembut dan pasrah.
Maka ketika pria melakukan ini bahkan sampai muncul sebuah istilah untuk menyebutnya yaitu buaya darat, sebuah sebutan yang sebenarnya berkonotasi negatif, yakni diibaratkan dengan mitos cerita hewan buaya yang suka mengelabui mangsa (yang dalam hal ini mangsa kaum lelaki adalah perempuan) kaum pria tidaklah dipandang rendah oleh masyarakat karena hal ini. Berbeda jika perempuan yang diberi julukan piala bergilir karena perilakunya yang suka berganti pasangan, padangan masyarakat akan lain, perempuan ini akan dipandang rendah, murahan dan lain-lain.
Disinilah bisa dilihat bagaimana kontruksi budaya begitu kuat mempengaruhi cara pandang masyarakat. Kaum egalitis percaya pada kekuatan budaya dalam membentuk sifat manusia. Hal ini antara lain terjadi karena peran media. Media menjadi sebuah arena bagi perjuangan simbol atau tanda. Dan posisinya sangat ditentukan konstruksi budaya di mana perempuan dan media berada. Dalam media umum, yang hidup dalam budaya patriarki yang kental, bisa jadi simbol maskulinitas akan lebih ditonjolkan. Dan dengan demikian, pada saat bersamaan, simbol femininitas akan termarjinalkan. Sehingga sebagian perilaku laki-laki yang kadang menindas kedudukan perempuan (menimbulkan kesenjangan gender) tetap diamini oleh masyarakat.
Masyarakat masih mengagungkan sifat-sifat yang rata-rata dimilki oleh kaum pria, yaitu sifat-sifat independen, otonom, ambisi, agresif, mampu mengontrol keadaan, dan berorientasi linear progresif, yang mana sifat-sifat ini sendiri merupakan keberhasilan standar maskulin.
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, Irwan. Kontruksi dan reproduksi Kebudayaan. 2006. yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Kaplan, david. Manners, Albert. Teori Budaya. 2002. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
http : // www. google. Com/symbol
http : // www. Yahoo.com/maskulin
http : // wikipedia.com

Pendidikan Sosiologi Antropologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sebelas Maret Surakarta